Pepes, atau lebih dikenal dengan nama “pais” di Sunda, merupakan salah satu teknik memasak tradisional tertua di Indonesia yang telah ada sejak zaman kuno. Jejak keberadaan pepes bahkan tercatat pada Prasasti Trunyan AI dari Bali tahun 891 M dan Prasasti Turunyan B tahun 911 M. Proses memasak ini berasal dari kebiasaan masyarakat agraris yang bergantung pada sumber daya alam sekitarnya, terutama di wilayah Pasundan.
Dalam awal perkembangannya, pepes digunakan sebagai cara untuk mengawetkan makanan alami. Dengan melilitnya menggunakan daun pisang, pepes membantu mempertahankan kelembapan makanan, mencegah kontaminasi, serta mempertahankan kesegaran dan cita rasa. Penggunaan rempah-rempah dalam pepes juga memiliki peran penting, selain untuk memberikan rasa yang khas, rempah-rempah seperti kunyit, kemiri, dan serai memiliki sifat pengawet alami.
Pada abad ke-19, pepes telah menjadi salah satu sajian khas Nusantara. Berdasarkan catatan dalam berbagai literatur, keberadaan pepes pertama kali tercatat pada tahun 1814. Seiring berjalannya waktu, pepes menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, mengakibatkan variasi bahan dan rempah yang disesuaikan dengan selera lokal.

