Pada pekan lalu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi lima daerah aliran sungai (DAS) yang terkena dampak banjir bandang di Sumatera Utara. DAS Batang Toru, DAS Garoga, DAS Aik Pandan, DAS Badiri, dan DAS Sibuluan menjadi fokus pantauan Menteri Hanif. Dalam pengamatannya, Menteri Hanif menemukan bahwa tidak semua kayu yang terbawa banjir disebabkan oleh aktivitas manusia.
Ditemui setelah memberikan bantuan dump truck untuk wilayah Aceh Tengah dan Agam, Menteri Hanif menyatakan bahwa kerusakan pada DAS Badili cukup signifikan. Banyak kayu yang jatuh ke bawah, namun tidak ditemukan bukti adanya aktivitas manusia yang besar di hulu sungai. Hal ini disebabkan oleh struktur tanah yang lemah, yang menyebabkan keruntuhan saat hujan lebat.
Menurut Menteri Hanif, indikasi struktur tanah yang lemah terlihat dari lubang-lubang di puncak. Kayu-kayu yang terbawa banjir akibat keruntuhan kemudian merusak banyak bangunan, termasuk satu sekolah yang tertutup oleh kayu. Sementara itu, kondisi mirip juga ditemukan pada DAS Garoga, di mana satu dusun tertimbun akibat banjir.
Dalam kasus DAS Garoga, Menteri Hanif menemukan adanya kegiatan perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan swasta di sekitar lokasi tersebut. Meskipun pihak perusahaan telah dipanggil untuk dimintai keterangan, penyebab utama bencana banjir tetap berasal dari kondisi hulu sungai yang buruk.

