Perang antara Iran versus Amerika Serikat-Israel telah memberikan dampak yang panjang bagi beberapa negara di Timur Tengah, termasuk Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Banyak turis yang terjebak dalam kekacauan akibat serangan militer kedua belah pihak, dan akhirnya harus memperpanjang masa inap mereka di Abu Dhabi. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi (DCT Abu Dhabi) bertindak dengan mengarahkan hotel untuk memberikan perpanjangan masa inap secara gratis kepada para tamu yang terdampak situasi tersebut.
Surat edaran yang dikeluarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, meminta manajer umum hotel untuk memperpanjang masa inap bagi tamu yang tidak dapat berangkat karena alasan di luar kendali mereka. Hotel-hotel diminta untuk menagih semua biaya kamar tambahan langsung ke departemen, sehingga tidak ada beban keuangan tambahan bagi para pelancong yang terjebak. Otoritas Penerbangan Sipil Umum (GCAA) UEA menempatkan sekitar 20.000 penumpang di hotel atau akomodasi sementara setelah terjadinya pembatalan penerbangan yang meluas.
Selain menyediakan akomodasi, pihak berwenang juga berusaha untuk memberikan makanan dan minuman kepada para penumpang yang terjebak. Tindakan tersebut kemudian menjadi viral di platform media sosial, dengan banyak orang memuji pendekatan proaktif dan kemanusiaan UEA selama krisis. Pengguna media sosial juga membandingkan kebijakan Abu Dhabi dengan tempat lain yang cenderung menaikkan harga selama krisis, sehingga banyak diantaranya memberikan pujian kepada UEA karena memprioritaskan kebutuhan rakyatnya dengan menanggung biaya hotel, makanan, dan pemesanan ulang bagi penumpang yang terdampak.

