Festival Lampion Waisak di Candi Borobudur: Merayakan Harapan dan Kedamaian
Pada tahun ini, Festival lampion Waisak di Candi Borobudur kembali digelar, menarik minat pengunjung dari berbagai latar belakang. Prosesi tersebut tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga menggambarkan perjalanan batin untuk introspeksi, ketenangan, dan penguatan harapan.
Menurut Direktur Komersial IDM Richard Gistang Panutur, lampion yang dilepaskan dalam perayaan Waisak mengandung makna yang mendalam, yakni sebagai sarana menyalurkan doa dan harapan di tengah warisan budaya dunia. Perayaan Waisak di Borobudur juga menjadi ajang penyatuan nilai spiritual, budaya, dan kemanusiaan.
Momen Refleksi dan Ketenangan
Prosesi pelepasan lampion bukan sekadar tradisi, melainkan ajakan refleksi untuk melepaskan beban dan menumbuhkan aspirasi baru. Diharapkan setiap pengunjung dapat merasakan kedamaian, rasa persatuan, dan makna mendalam dari perayaan ini.
Adapun aturan yang harus dipatuhi oleh peserta dan pengunjung, antara lain berpakaian sopan, putih-putih, dan tertutup sebagai simbol harapan dan kedamaian. Selain itu, larangan membawa makanan, lampion pribadi, atau barang dari luar menjadi hal yang harus diperhatikan. Menggunakan tumbler untuk minuman dan menjaga ketertiban selama acara berlangsung juga menjadi bagian dari kewajiban peserta.
Sekali waktu, melibatkan diri dalam perayaan budaya dapat menjadi pengalaman yang mendatangkan kedamaian dan inspirasi baru bagi diri sendiri maupun orang lain. Festival lampion Waisak di Candi Borobudur adalah salah satu momen yang cocok untuk merayakan harapan, kedamaian, dan nilai-nilai luhur.

