Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Masih Bermakna di Tengah Dilema Perokok di Indonesia
Pada setiap tanggal 31 Mei, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Meskipun demikian, di Indonesia, pertanyaan pun muncul: apakah HTTS masih memiliki makna yang relevan ketika angka perokok di negara ini masih sangat tinggi, bahkan anak-anak mulai merokok sejak usia sekolah?
Permasalahan Besar Perokok di Indonesia
Negara Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Data terbaru mencatat bahwa sekitar 70 juta orang di Indonesia adalah perokok aktif, dan mayoritas dari mereka berada dalam kelompok usia muda. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menemukan bahwa kelompok usia 15–19 tahun merupakan kelompok perokok terbesar, sementara kelompok 10–14 tahun juga menunjukkan angka yang signifikan.
Meskipun prevalensi perokok pada kelompok usia 10–18 tahun menurun menjadi sekitar 7,4%, namun angka tersebut masih di atas target nasional 5,4%. Selain itu, penggunaan rokok elektronik (vape) also meningkat, menandakan adanya regenerasi perokok di Indonesia.
Peran Rokok dalam Dilema Ekonomi
Industri tembakau tetap menjadi penyumbang penerimaan negara melalui cukai, namun biaya pengobatan akibat rokok, kehilangan produktivitas, kecacatan, dan kematian dini juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Sehingga, isu tentang rokok di Indonesia bukan hanya soal penerimaan negara, melainkan juga investasi kesehatan bangsa.
Namun demikian, tantangan terbesar bukan hanya pada regulasi yang ada, melainkan pada budaya masyarakat yang masih memberikan ruang luas bagi konsumsi rokok. Bahkan, budaya merokok telah masuk ke dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Regulasi Pengendalian Tembakau dan Tantangan Positif
Walaupun regulasi pengendalian tembakau telah diterbitkan oleh pemerintah, implementasinya masih lemah. Menyebabkan masih banyak pelanggaran yang terjadi, seperti perokok di tempat umum, penjualan rokok di sekitar sekolah, hingga anak-anak yang masih mudah mendapatkan rokok.
Salah satu tantangan positif adalah mulai adanya peningkatan jumlah perokok perempuan, menunjukkan bahwa pasar rokok tidak hanya ditujukan kepada laki-laki saja. Namun, hal ini juga menandakan bahwa upaya pengendalian tembakau harus lebih komprehensif dan merata.

