Mouth Taping: Antara Mitos dan Fakta
Praktik mouth taping atau menutup mulut saat tidur telah menjadi tren yang populer di kalangan yang mencari tidur yang lebih nyenyak dan sejumlah manfaat kesehatan lainnya. Namun, klaim-klaim seputar manfaat mouth taping ini tidak sepenuhnya didukung oleh data ilmiah yang kuat.
Sikap Komunitas Medis dan Ilmiah
Dr. Faisal Zahiruddin dan Dr. Jessica Camacho, dua ahli medis yang mengkaji praktik mouth taping, menegaskan bahwa penelitian yang ada masih terbilang rendah dalam kualitasnya. Mereka berpendapat bahwa data yang ada belum cukup untuk membuat rekomendasi resmi terkait praktik ini.
Hingga saat ini, belum ada pedoman klinis yang secara jelas mendukung penggunaan mouth taping sebagai metode pengobatan gangguan tidur. Bahkan, American Academy of Sleep Medicine secara khusus menyarankan untuk tidak melakukan mouth taping.
Dampak pada Gangguan Tidur
Beberapa studi kecil menunjukkan adanya pengurangan dengkuran setelah melakukan mouth taping. Namun, dampaknya terhadap sleep apnea masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebuah studi percontohan pada 2023 menemukan bahwa plester mulut berpori mungkin dapat membantu dalam mengurangi indeks apnea-hipopnea pada pasien dengan sleep apnea obstruktif ringan, namun hasilnya tidak bisa digeneralisasi karena ukuran sampel yang kecil.
Secara keseluruhan, sambil tetap memperhatikan bukti ilmiah yang ada, penting untuk berhati-hati dalam mengikuti tren seperti mouth taping yang menawarkan manfaat kesehatan tanpa dukungan yang memadai dari komunitas medis dan ilmiah.

