Peran TNI dalam Menjaga Ketahanan Negara saat Terjadi Gangguan Strategis

Date:

Share post:

Globalisasi telah membuat dunia semakin terhubung melalui jaringan keuangan, informasi, dan perdagangan lintas negara. Namun, keterhubungan ini membawa konsekuensi baru yang semakin menantang, karena ketika satu bagian terganggu, dampaknya bisa menyebar ke seluruh dunia. Dua konflik modern, yakni Perang Ukraina dan Perang Iran, memberikan gambaran nyata tentang efek domino dalam sistem ekonomi global yang sangat terintegrasi.

Perang Ukraina membuktikan betapa vitalnya sebuah simpul distribusi pada rantai pasok pangan dunia. Sebelum pecah konflik, lebih dari 90 persen ekspor agrikultur Ukraina dikirim lewat pelabuhan Laut Hitam, mendukung jutaan orang di berbagai penjuru dunia. Ketika pelabuhan tersebut terhambat akibat perang, jalur darat dan sungai tidak sanggup menampung beban distribusi sepenuhnya. Hal ini bukan hanya menimbulkan kelangkaan bahan pangan di negara konsumen, tetapi juga mengancam produksi masa depan akibat terputusnya pasokan bahan baku pupuk, yang selama ini dikuasai oleh Rusia dan Belarus. Dengan terhambatnya pengiriman pupuk, penurunan produksi bisa menjalar ke berbagai negara lain pada musim tanam selanjutnya.

Sementara itu, Perang Iran menyoroti pentingnya jalur distribusi energi. Selat Hormuz, sebagai saluran utama pasokan minyak dunia, dengan mudah menjadi titik rawan atau chokepoint. Ancaman terhadap kapal-kapal di wilayah ini, baik melalui ranjau, rudal, atau drone, cukup untuk membuat operator kapal menunda keberangkatan. Walau tidak terjadi penyumbatan total, kenaikan premi asuransi dan risiko keamanan membuat sebagian besar pengiriman tertunda, sehingga pasokan minyak global menurun drastis dalam waktu singkat. Peristiwa ini, menurut International Energy Agency, merupakan gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia.

Persoalan yang dihadapi dunia saat ini, seperti yang diulas Farrell dan Newman, berpangkal pada ketergantungan terhadap titik konsentrasi dalam jaringan ekonomi global. Semakin besar peran suatu simpul, semakin besar pula risiko jika terjadi gangguan di titik tersebut. Baik itu pelabuhan, jaringan energi, ataupun sistem pembayaran—jika salah satu gagal, efeknya dapat meluas hingga lintas benua. Kerentanan yang dimunculkan oleh jaringan yang terlalu terpusat ini makin tampak ketika mekanisme perang modern tidak lagi hanya soal pertarungan militer di lapangan, tapi juga melibatkan sanksi ekonomi, blokade finansial, hingga pemutusan akses teknologi.

Dampak peperangan kini menyebar lebih jauh dari sekadar lokasi konflik. Negara yang tidak terlibat langsung, seperti Indonesia, bisa ikut merasakan efek buruknya. Ketika ekspor gandum Ukraina terhambat, negara-negara di Asia dan Afrika menghadapi kenaikan harga bahan pangan. Atau ketika Selat Hormuz terganggu, harga bahan bakar melonjak hingga berdampak pada ekonomi domestik, termasuk di Indonesia. Realitas ini menuntut paradigma baru dalam perencanaan pertahanan: bangsa tidak bisa lagi hanya memfokuskan pengamanan pada kemungkinan serangan fisik, tetapi juga harus memperhitungkan keamanan fungsi-fungsi vital yang menopang pertahanan nasional dari efek rantai pasok global.

Sektor-sektor seperti transportasi laut, energi, komunikasi data, hingga infrastruktur keuangan kini menjadi elemen strategis yang patut dimasukkan dalam kalkulasi pertahanan. Indonesia, sebagai negara kepulauan, sangat bergantung pada arus barang dan informasi lintas pulau. Gangguan pada pelabuhan, terminal energi, kabel bawah laut, atau gudang pangan bisa langsung melumpuhkan konektivitas dan logistik negara ini, meski konflik terjadi ribuan kilometer jauhnya.

Karena itu, kemandirian produksi saja tidak cukup, jika input seperti bahan baku atau teknologi tetap diimpor dari luar. Ketahanan bisa dibangun melalui keberadaan cadangan, jalur alternatif, dan sistem pengganti yang memperkecil risiko kegagalan jaringan utama. Perubahan pendekatan pertahanan memerlukan identifikasi kritis pada simpul-simpul kunci, membangun kemampuan pemulihan cepat, dan memastikan adanya redundansi pada setiap fungsi penting, baik distribusi pangan, energi, maupun data.

Pelajaran dari Ukraina dan Iran, pada intinya, mengingatkan Indonesia untuk tidak sekadar bertanya “dari mana serangan akan datang”, melainkan juga menyiapkan respons saat fungsi strategis gagal beroperasi. Menyadari fungsi apa yang paling rawan dan sulit digantikan menjadi kunci bagi ketahanan nasional menghadapi era yang semakin kompleks. Konektivitas yang mengikat ekonomi dan pertahanan nasional harus dijaga tidak hanya dari ancaman langsung, tetapi juga terhadap efek globalisasi yang bisa mengubah simpul kekuatan menjadi titik lemah.

Dengan memahami bahwa risiko global adalah kenyataan yang harus dihadapi bersama, Indonesia perlu memandang pertahanan secara fungsional, bukan hanya sektoral. Ketika rantai pasok global terganggu, apakah Indonesia siap bertahan, dan sampai berapa lama fungsi vital bangsa mampu berjalan? Transformasi perencanaan inilah yang menjadi kebutuhan mendesak agar negara tetap kokoh berdiri di tengah perubahan geopolitik dunia.

Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas

Semua BErita

Sejarah Hari Pangan Sedunia 16 Oktober dan Tujuannya

Hari Pangan Sedunia diperingati setiap 16 Oktober dengan perhatian yang semakin luas: bukan hanya soal tersedianya makanan, tetapi...

8 HP Android Kamera AI Terbaik untuk Konten Estetik

Kamera ponsel kini tidak hanya dinilai dari jumlah megapiksel. Bagi pembuat konten, kemampuan merekam video, stabilisasi, kualitas sensor,...

**Cara Membuat Combro Isi Oncom Tanpa Kelapa, Renyah dan Anti Lembek**

Combro dengan kulit singkong yang garing dan isian oncom yang gurih bergantung pada beberapa tahap penting, mulai dari...

**GERTAK Apresiasi KPK Ungkap Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB**

Gerakan Rakyat Tolak Aktor Koruptor (GERTAK) meminta pengusutan dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa di Badan Nasional Penanggulangan...