Panekuk kentang memiliki banyak wajah di berbagai tradisi kuliner dunia. Di Jerman, hidangan ini dikenal sebagai Kartoffelpuffer; dalam tradisi Yahudi, ia hadir sebagai latke; sementara Korea memiliki gamjajeon. Meski sama-sama berbahan dasar kentang dan dimasak di atas wajan, masing-masing sajian berkembang dengan bentuk, tekstur, serta latar kuliner yang berbeda.
Dari jajanan Jerman hingga hidangan hari raya
Dilansir dari Tasting Table, panekuk kentang atau Kartoffelpuffer mulai populer sebagai jajanan kaki lima di Jerman pada era 1870-an. Sajian ini menjadi salah satu kerabat panekuk kentang yang dikenal luas dalam keluarga kuliner Eropa.
Latke memiliki perjalanan sejarah yang tidak sepenuhnya sama. Menurut catatan The Nosher, panekuk goreng tersebut pada awalnya dibuat dari keju, bukan kentang. Perubahan terjadi setelah kentang menjadi bahan pangan pokok di Eropa Timur pada pertengahan abad ke-19. Sejak saat itu, kentang menjadi bahan utama dalam versi latke yang lebih dikenal.
Dalam tradisi Yahudi, latke juga memiliki makna khusus. Chef sekaligus pembawa acara Andrew Zimmern, seperti dikutip dari Parade, menyebut, “Latke kentang adalah makanan khas hari raya yang paling utama.” Pernyataan tersebut menempatkan latke bukan hanya sebagai olahan kentang, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi perayaan.
Serupa dengan perkedel, tetapi berbeda teknik
Di Indonesia, pancake kentang keju kerap dianggap sama dengan perkedel. Keduanya memang menggunakan kentang sebagai bahan utama, tetapi cara pembentukan dan memasaknya berbeda.
Perkedel umumnya dibuat dari kentang tumbuk yang dibentuk bulat dan tebal. Adonan tersebut kemudian digoreng dengan minyak yang cukup banyak atau secara terendam. Pancake kentang keju memiliki bentuk yang lebih pipih dan dimasak menggunakan sedikit minyak. Perbedaan ini membuat keduanya memiliki tampilan serta karakter sajian yang tidak sama, meskipun sama-sama mengandalkan kentang.
Keju menjadi ciri yang menonjol pada versi pancake kentang yang populer di Indonesia. Bahan tersebut memberi rasa gurih sekaligus membedakannya dari sejumlah panekuk kentang tradisional yang berkembang di negara lain. Namun, kemiripan bentuk dan bahan dasar membuatnya tetap mudah disandingkan dengan perkedel dalam percakapan sehari-hari.
Gamjajeon Korea yang tipis dan garing
Korea memiliki gamjajeon, sajian yang menjadi spesialitas Provinsi Gangwon. Berbeda dari olahan yang menggunakan banyak bahan pengikat, gamjajeon dibuat dari kentang yang diparut halus dengan sedikit tepung. Komposisi tersebut menghasilkan panekuk yang lebih tipis dan garing.
Ragam tersebut memperlihatkan bahwa panekuk kentang tidak berasal dari satu negara atau satu tradisi saja. Bahan yang sama dapat diolah menjadi sajian kaki lima di Jerman, makanan khas hari raya dalam tradisi Yahudi, hidangan tipis dan renyah di Korea, maupun pancake kentang keju yang kerap disandingkan dengan perkedel di Indonesia.

