Para ahli mengekspresikan kekhawatiran terhadap tren sleepmaxxing setelah dilaporkan bahwa setidaknya satu kematian di China tahun lalu dikaitkan dengan praktik “menggantung leher” serupa. Timothy Caulfield, seorang pakar misinformasi dari University of Alberta di Kanada, menganggap teknik ini sebagai hal yang konyol, berpotensi berbahaya, dan tidak didukung oleh bukti ilmiah. Menurutnya, fenomena sleepmaxxing adalah contoh bagaimana media sosial dapat mempropagandakan hal-hal yang tidak masuk akal.
Selain itu, ada praktik populer lain seperti menutup mulut dengan plester saat tidur yang diyakini dapat meningkatkan pernapasan hidung. Para influencer mengklaim bahwa hal ini dapat memberikan manfaat berupa tidur yang lebih nyenyak, kesehatan mulut yang lebih baik, dan mengurangi dengkuran. Namun, sebuah laporan dari George Washington University menemukan bahwa sebagian besar klaim ini tidak didukung oleh penelitian medis. Para ahli juga mengingatkan bahwa praktik ini bisa berbahaya terutama bagi penderita sleep apnea, kondisi yang mengganggu pernapasan saat tidur.

