Hujan yang turun di Bogor bukan semata-mata akibat kebetulan atau julukan “Kota Hujan” yang telanjur melekat. Kota ini memiliki kombinasi kondisi geografis dan atmosfer yang membuat pembentukan awan hujan relatif mudah, mulai dari keberadaan pegunungan hingga pasokan uap air dari laut.
Pegunungan dan udara lembap memperkuat pembentukan hujan
Bogor berada di bagian barat Pulau Jawa, dekat dengan kawasan Gunung Salak serta Gunung Gede-Pangrango. Topografi tersebut memengaruhi pergerakan udara, khususnya melalui proses yang dikenal sebagai hujan orografis.
Ketika udara yang membawa uap air bergerak menuju pegunungan, alirannya terdorong naik mengikuti lereng. Suhu udara menurun seiring bertambahnya ketinggian. Pada tahap ini, uap air mengalami kondensasi dan membentuk awan. Jika kandungan air di dalam awan semakin besar, hujan kemudian turun.
Proses pengangkatan udara itu membuat wilayah di sekitar pegunungan berpotensi menerima curah hujan lebih tinggi dibandingkan daerah yang relatif datar. Penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa efek orografis dapat meningkatkan curah hujan di wilayah yang berada pada sisi datangnya angin.
Selain dikelilingi pegunungan, Bogor relatif terbuka terhadap pengaruh angin laut. Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai karakteristik curah hujan di Kota Bogor menyebutkan, kondisi tersebut membuat kota ini menerima curah hujan yang relatif tinggi.
Angin dari laut membawa udara yang mengandung banyak uap air ke daratan. Ketika udara lembap itu bertemu dengan topografi pegunungan dan kondisi atmosfer yang mendukung, pertumbuhan awan hujan dapat semakin aktif. Artinya, Bogor memiliki dua unsur penting yang mendukung hujan: pasokan udara lembap dan bentang alam yang membantu udara bergerak naik.
Hujan kerap memuncak pada sore hari
Hujan di Bogor juga memiliki pola waktu tertentu. Berdasarkan penelitian IPB dengan data 2017-2020, curah hujan di kota tersebut cenderung meningkat sejak siang hingga malam, dengan puncak kejadian pada sore hari. Peningkatan hujan terutama terlihat sekitar pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.
Pola itu berkaitan dengan pemanasan permukaan bumi. Pada siang hari, sinar matahari membuat udara di dekat tanah menjadi lebih hangat dan naik. Jika udara tersebut memiliki kelembapan yang cukup, gerakan naik itu dapat memicu pertumbuhan awan konvektif. Karena itu, siang yang panas di Bogor tidak selalu berujung pada sore yang cerah.
Pada Desember hingga Februari, hujan di Bogor bahkan dapat terjadi hampir setiap jam. Sebaliknya, pada Juni hingga Agustus, hujan pada malam hingga awal siang jauh lebih jarang, menurut penelitian IPB.
Dipengaruhi pula kondisi atmosfer regional
Faktor lokal bukan satu-satunya penentu. Dalam sejumlah analisis cuaca di Jawa Barat, BMKG menyebut kelembapan udara tinggi, suhu muka laut yang relatif hangat, pertemuan atau belokan angin, serta atmosfer yang labil sebagai kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan. BMKG juga menemukan pengaruh topografi pegunungan atau efek orografis dalam sejumlah kejadian cuaca ekstrem di Jawa Barat, termasuk Bogor.
Dengan begitu, Bogor tentu tidak selalu diguyur hujan. Frekuensi dan intensitasnya tetap berubah mengikuti musim serta kondisi atmosfer. Namun, kombinasi pegunungan, uap air dari laut, pemanasan matahari, pergerakan angin, dan dinamika atmosfer membuat hujan lebih mudah terbentuk di kota ini.

