Mengapa Jengkol Bau? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Date:

Share post:

Aroma jengkol yang kuat bukan semata-mata berasal dari sisa makanan yang tertinggal di gigi. Bau tersebut berkaitan dengan senyawa sulfur yang secara alami terdapat di dalam biji jengkol, sehingga aromanya dapat bertahan di rongga mulut dan napas setelah makanan dikonsumsi.

Jengkol atau Archidendron pauciflorum dikenal memiliki karakter aroma yang mudah dikenali. Bagi sebagian orang, bau ini menjadi bagian dari kenikmatan jengkol. Namun, bagi yang lain, aromanya bisa terasa menyengat, baik ketika jengkol disantap maupun beberapa waktu setelahnya.

Senyawa sulfur menjadi sumber aroma khas

Penelitian tentang komponen aroma pada sejumlah tanaman berbau khas di Indonesia menemukan bahwa 1,2,4-trithiolane merupakan salah satu komponen utama pada jengkol. Senyawa tersebut termasuk kelompok senyawa sulfur dan berkontribusi terhadap aroma khas tanaman itu.

Karakter bau jengkol dan petai terutama berkaitan dengan senyawa sulfur. Hal ini membedakannya dari beberapa tanaman lain yang menghasilkan aroma khas melalui kelompok senyawa berbeda.

Jengkol juga mengandung asam jengkolat atau djenkolic acid. Senyawa ini merupakan salah satu jenis asam amino yang mengandung sulfur dan secara alami ditemukan di dalam biji jengkol.

Penelitian mengenai kandungan sulfur pada jengkol menjelaskan bahwa asam jengkolat dapat terurai menjadi senyawa yang memiliki gugus thiol dan bersifat volatil. Senyawa yang mudah menguap tersebut dapat ikut membentuk bau khas jengkol.

Artinya, aroma jengkol tidak hanya muncul karena ada bagian makanan yang tertinggal di mulut. Kandungan kimia tertentu di dalam jengkol memang memiliki karakter bau yang kuat.

Mengapa aroma dapat terbawa hingga napas?

Setelah jengkol dimakan, sebagian senyawa yang berhubungan dengan aromanya dapat berada di rongga mulut. Pada saat yang sama, mulut merupakan lingkungan yang dihuni ratusan jenis bakteri. Sejumlah bakteri dapat memecah bahan organik dan senyawa yang mengandung sulfur.

Proses tersebut menghasilkan volatile sulfur compounds (VSC), yakni senyawa sulfur yang mudah menguap. Hidrogen sulfida dan metil merkaptan merupakan dua contoh VSC yang dikenal berperan besar dalam munculnya bau mulut.

Karena mudah menguap, senyawa itu dapat terbawa bersama udara ketika seseorang berbicara atau mengembuskan napas. Inilah yang membuat aroma setelah makan jengkol tidak hanya tercium dari mulut, tetapi juga dapat terasa pada napas.

Kondisi permukaan lidah turut memengaruhi lamanya bau bertahan. Bagian belakang lidah memiliki permukaan yang relatif kasar, dengan papila dan celah tempat sisa makanan, sel yang terlepas, serta bakteri dapat berkumpul. Area tersebut kemudian dapat mendukung pembentukan senyawa penyebab bau mulut.

Karena melibatkan senyawa volatil dan aktivitas bakteri di rongga mulut, aroma jengkol terkadang tidak langsung hilang hanya dengan berkumur atau menyikat gigi.

Source link

Semua BErita

Sejarah Hari Pangan Sedunia 16 Oktober dan Tujuannya

Hari Pangan Sedunia diperingati setiap 16 Oktober dengan perhatian yang semakin luas: bukan hanya soal tersedianya makanan, tetapi...

8 HP Android Kamera AI Terbaik untuk Konten Estetik

Kamera ponsel kini tidak hanya dinilai dari jumlah megapiksel. Bagi pembuat konten, kemampuan merekam video, stabilisasi, kualitas sensor,...

**Cara Membuat Combro Isi Oncom Tanpa Kelapa, Renyah dan Anti Lembek**

Combro dengan kulit singkong yang garing dan isian oncom yang gurih bergantung pada beberapa tahap penting, mulai dari...

**GERTAK Apresiasi KPK Ungkap Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB**

Gerakan Rakyat Tolak Aktor Koruptor (GERTAK) meminta pengusutan dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa di Badan Nasional Penanggulangan...